Kamis, 30 April 2009

Mengenai perkembangan estetik kriya anyam mendong di desa Cibeureum Kabupaten Tasikmalaya, merupakan suatu pengalaman yang yang harus diperhatikan oleh kalangan pemerhati seni (kriya/kerajinan) dan hasil kebudayaan pada umumnya, mengingat kriya anyam mendong masih mampu memposisikan dirinya sebagai salah satu kriya anyam di Indonesia yang masih dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya secara turun temurun. Kedudukan kriya anyam tersebut telah terjadi perubahan-perubahan dari segi fungsi, bentuk, tampilan, bahkan dari segi maknanya. Perubahan ini tentunva akan nampak pula pada perubahan estetik yang terdapat pada hasil produk kriya anyam mendong. Perkembangan dan perubahan-perubahan yang terdapat pada kriya anyam mendong sangat dipengaruhi oleh perkembangan sosial budaya setempat, bersama pandangan hidup yang dianutnya, termasuk dipengaruhi oleh alam sekitar yang berkesinambungan dari waktu-waktu sebelumnya, yang banyak sekali menentukan keberlangsungan dan kelestarian kriya anyam di Desa Cibeureum Tasikmalaya. Salah satu permasalahan dalam perkembangan kriya anyam mendong adalah pasar dan ketersediaan bahan baku, yang perlu mendapatkan perhatian secara khusus dari pihak-pihak luar Cibeureum. Sudah saatnya masyarakat dan pihak terkait untuk mendukung dan melestarikan Kriya anyam (mendong) tersebut... semoga!
“PENGGUBAHAN MOTIF BATIK MYASTHENIA GRAVIS SEBAGAI TERAPI”
Berkarya batik merupakan kegemaran/hobby yang telah ditekuni dan dijadikan dasar acuan perupaan dalam proses pembentukan karya. Gagasan karya dilatarbelakangi pula oleh gagasan pengalaman subyektifitas penulis mengenai "pengalaman hidup" yang berupa kecemasan, ketakutan yang sangat mengganggu perasaan terhadap penyakit mata yang penulis derita. Menurut ilmu kedokteran penyakit tersebut disebut, Myasthenia Gravis. Sensasi-sensasi pergolakan bathin dalam situasi di atas yang dialami penulis dicarikan ungkapan bahasanya dalam ragaan bentuk karya-rupa. Canthing batik yang merupakan inspirasinya, dikembangkan, dieksplorasi serta diolah pada sebuah material yang berupa kain/kayu mahoni. Lahirlah perwujudan karya-karya 2 dimensional (dwimatra) menyerupai karya seni relief dan karya 3 dimensional yang monumental, mengambil bentuk dasar limas segi empat. Dalam proses berkaya ada 3 tahapan pengembangan. Dimulai dari eksplorasi motif Sekar Jagad. Penggubahan ini dimaksudkan untuk mencari makna baru terhadap motif batik Sekar Jagad itu sendiri. Kemudian penulis menciptakan bentukan pola motif mata sebagai simbol penderitaan yang dialami yaitu Myasthenia Gravis. Paduan bentukan mata dan motif batik Sekar Jagad dalam satu bidang berpadu dalam komposisi yang padat dan ritmis. Sedangkan unsur kaligrafi dalam karya sebagai ungkapan rasa syukur penulis akan limpahan karuniaNya. Dengan merangkai 99 nama indah Allah ( al-asma al-usna) ke dalam paduan unsur-unsur bentuk di atas pada wujud karya trimatra semuanya akan menampakkan keharmonisan. Hasilnya adalah karya akhir penulis yang berawal dari konsep pengalaman pribadi penyakit “Myasthenia Gravis” yaitu penyakit yang diderita penulis sejak sebelum mengikuti pendidikan SMIK/SMKN 3 Kota Tasikmalaya, hingga diterima mengikuti pendidikan S-1 Kriya Seni; FSR-ISI Yogyakarta. Ternyata menjadi pembuktian bagi penulis bahwa berkarya seni rupa dapat menjadi terapi, dan "penyakit" yang penulis derita itulah justru menjadi titik tolak perupaan dengan dimunculkannya karya-karya penulis dengan berbagai karya seni rupa. Karya akhir ditampilkan dalam bentuk 2 dimensional dan 3 dimensional.